Meluruskan kekeliruan Islamophobia, “Islam disebarkan dengan pedang”

islamophobia

 

Meluruskan kekeliruan Islamophobia, “Islam disebarkan dengan pedang”

 

Oleh: Dion Bagus Nugraha B.

Tulisan ini dipos pada saat mengisi Kulsap ODOJ MITI MJR

 

Salah satu isu yang diangkat oleh non-muslim atau Islam liberal yang phobia terhadap Islam adalah Islam berhasil menjadi agama besar di dunia ini karena ekspansi pedang-pedang mereka ke wilayah-wilayah non-muslim. Mereka mencantumkan peristiwa-peristiwa penaklukkan  dan peperangan Islam untuk menguatkan opini tersebut. Akibatnya banyak orang-orang non-muslim menjadi antipati dengan agama yang menebarkan kedamaian ini dan umat Islam sendiri yang lemah iman dan minus perbekalan ilmiahnya merasa malu dan menyesali rekam jejak sejarah agamanya sendiri.

 

Maka kita akan kaji kekeliruan phobia tersebut sebagai berikut:
Pertama, Tidak Ada Paksaan Untuk Memeluk Islam
Sebelum kita beranjak ke data-data historis tentang peperangan di zaman era keislaman awal sampai peradaban emas Islam, ada sebuah kaidah yang perlu dipahami bahwa umat Islam dilarang memaksa, mengancam, dan memberikan tekanan suatu kelompok atau individu tertentu agar mereka memeluk Islam

 

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dan jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada Thagut [setan dan apa saja yang disembah selain Allah SWT] dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 256)

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang sebab diturunkannya ayat ini, “Ayat ini diturunkan berkaitan dengan salah seoarang Anshar (sahabat Nabi dari Madinah) dari Bani Salim bin Auf. Al-Hushaini mengatakan, ‘Sahabat ini memiliki dua orang anak laki-laki yang beragama Nasrani dan dia seorang muslim. Lalu ia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku memaksa keduanya karena mereka menolak agama kecuali agama Nasrani. Allah pun menurunkan ayat ini’.” (Tafsir Ibnu Katsir).

 

Jadi, tidak diperkenankan seorang muslim memaksa seseorang atau kelompok tertentu untuk memeluk Islam walaupun orang atau kelompok tersebut di bawah kekuasaannya. Kalau ternyata penduduk negeri-negeri yang ditaklukkan oleh umat Islam memeluk agama Islam, itu bukan dikarenakan paksaan atau tekanan dari pihak muslim yang berkuasa, akan tetapi dikarenakan kedamaian yang mereka temukan dalam ajaran Islam.

 
Kedua,  Di zaman sebelum Islam turun sampai nasionalis terbentuk mengkotak-kotakkan Negara (khususnya Negara Islam) adalah hal yang lumrah bagi sebuah negara penakluk untuk memaksakan budaya dan agama kepada wilayah yang ditaklukkannya. Kita bisa melihat bagaimana Negara-negara besar seperti Romawi atau Persia (2 Negara besar saat itu) bila menaklukkan wilayah akan memaksakan agama dan budayanya kepada jajahannya. Apakah Negera Islam melakukannya? Seperti poin pertama yang saya sebutkan, Negera Islam tidak melakukkannya. Karena selain berpegang pada kaidah “Tidak Ada Paksaan Untuk Memeluk Islam”, dalam Al Quran dan tuntunan Rasulullah mencotohkan untuk berbuat adil dan baik kepada non-muslim.

 

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

 

Para Khulafaurrasyidin mencontohkan untuk menanamkan kepada kaum muslimin bahwa peperangan pun ada norma-normanya. Abu Bakar ash-Shiddiq mengatakan kepada pasukan Islam, “…Jangan melakukan penghiantan dan melenceng dari kebenaran; jangan memutilasi jasad musuh; jangan membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua; jangan menebang, merusak, dan membakar pepohonan, terutama yang sedang berbuah; jangan membunuh hewan ternak musuh; dan kalian akan melewati orang-orang monastik, jangan kalian ganggu mereka.” (Islamic Ruling on Warfare, Hal: 22).

 

Di zaman itu, aturan ini sesuatu yang unik. Mengapa dikatakan unik? Karena berabad-abad tradisi perang bangsa-bangsa yang ada pada saat itu (Persia dan Romawi), mereka tidak pernah memikirkan norma peperangan yang demikian. Mereka mengartikan perang adalah membunuh, menaklukkan, dan menguasai, adapun Umat Islam memiliki perspektif yang berbeda dengan bangsa Romawi dan Persia dalam peperangan mereka.

 

Cara memandang peperangan yang berbeda antara umat Islam dan umat-umat lainnya berdampak pada saat umat Islam memasuki basis-basis Persia dan Romawi. Saat umat Islam sampai di wilayah  Persia dan Romawi, umat Islam berhasil menarik simpati penduduk-penduduknya. Romawi kehilangan basis besar Nasrani tatkala pasukan Islam memasuki Syria dan Mesir. Orang-orang Syria dan Mesir berbondong-bondong memeluk agama Islam saat cahaya hidayah sampai ke wilayah tersebut. Sedangkan Persia lebih buruk lagi keadaannya, mereka bahkan kehilangan eksistensi di Irak tatkala negeri itu ditaklukkan oleh umat Islam. Luar biasanya, penduduk ini tidak dipaksa sama sekali untuk memeluk agama Islam.

 

Hal ini juga diterapkan oleh Umar bin Khattab tatkala menaklukkan Jerusalem. Lihatlah apa yang terjadi pada hari ini, wilayah-wilayah Bizantium Romawi dan Persia dahulu, mayoritas penduduknya sekarang adalah muslim: Kristen di Mesir hanya (9%) dari jumlah penduduk, di Syria (10%), Irak (3%), dan Libanon (39%). Apabila penaklukkan yang dilakukan oleh umat Islam disertai dengan pemaksaan tentu saja komunitas muslim di sana tidak akan bertahan lama. Ini membuktikan Islam tidak disebarkan dengan pedang.

 

Di masa penaklukkan Jerusalem kedua oleh Sultan Shalahuddin Al Ayubi, seperti diangkat pada film “The Kingdom of Heaven”, pada saat Sultan selesai menaklukkan Jerusalem, beliau tetap memegang teguh apa yang Para Khulafaurrasyidin mencontohkan, untuk tidak merusak tempat ibadah dan tidak membunuh secara membabi buta penduduk yang sudah menyerah. Beliau bahkan membaskan penduduk non-muslim yang tidak mampu untuk membayar jizyah bahkan dicukupkan kebutuhannya.

 

Dan fakta historis lain banyak menunjukkan bukti-bukti bahwa Tidak ada pemaksaan agama Islam kepada penduduk non muslim yang berada di bawah kekuasaan Negara Islam. Ketika umat Islam berhasil mengambil alih kekuasaan Bizantium Romawi di wilayah Afrika Utara, Islam pun semakin tersebar luas dan semakin banyak mendapat sambutan dari masyarakat dunia. Saat itulah bangsawan-bangsawan Eropa yang dimotori oleh Raja Julian meminta umat Islam agar menaklukkan penguasa zalim yang menguasai Andalusia, Raja Roderick. Mengapa Julian yang bukan seorang muslim meminta tolong kepada umat Islam? Karena mereka tahu, kalau umat Islam yang berkuasa, maka kedamaian dan keadilan akan tercipta. Adalah seorang Thariq bin Ziyad, atas pemberian amanah oleh Gubernur Tangier Musa ibnu Nushair yang membantu Raja Julian menaklukkan kedzaliman Raja Roderick yang menorehkan sejarah emas pembebasan Andalusia.

 

Pada pembebasan di Tanah Hindustan, Bani Umayyah berjasa besar melalui panglima mereka Muhammad bin Qashim ats-Tsaqafi, negeri yang dihuni oleh para penyembah berhala ini mengenal kemuliaan Islam. Pemicu pembebasan ini adalah kapal-kapal pedagang muslim yang biasa melakukan perniagaan dengan orang-orang Sri Lanka dibajak oleh sekelompok bajak laut dari wilayah Sindh (Pakistan sekarang). Para perompak ini menawan dan menjadikan para muslimah yang tertangkap sebagai budak. Untuk membebaskan saudara-saudara muslim ini diutuslah Muhammad bin Qashim bersama pasukannya. Muhammad bin Qashim pun berhasil menaklukkan para perompak tersebut. Peristiwa ini menjadi isu yang panas di India, namun inilah titik baliknya. Orang-orang Hindu yang mengenal kasta dan orang-orang Budha yang tertindas oleh bangsawan Hindu melihat sebuah agama baru, agama yang menawarkan persamaan, dan kemuliaan diukur dengan ketakwaan bukan nasab dan golongan. Akhirnya orang-orang India pun berbondong-bondong memeluk agama Islam.

 

Sejarawan terkemuka De Lacy O’Leary dalam bukunya ‘Islam at the Cross Road’ pada halaman 8 mengkatakan, “Bagaimanapun juga bahwa legenda tentang orang-orang Islam fanatik menyapu dunia dan memaksakan Islam sampai menggunakan pedang atas bangsa-bangsa yang ditaklukkan adalah mitos luar biasa fantastis yang pernah diulang-ulang para sejarawan”.

 

Kesimpulannya, bahwa konsepsi Islam berhasil menjadi agama besar di dunia ini karena ekspansi pedang-pedang mereka ke wilayah-wilayah non-muslim adalah tidak benar. Islam memiliki 2 tujuan utama diturunkan kepada manusia. Pertama, Islam diturunkan kepada manusia untuk memurnikan agama samawi tauhid yang sebelumnya diturunkan kepada umat terdahulu tetapi dilencengkan oleh pengikutnya merubahnya seperti mengangkat Nabi/Rasulnya menjadi Anak Tuhan, membuat patung orang-orang shaleh dan menyembahnya, bahkan menyembang rasul pembawa risalah menjadi sesembahan. Kedua, Islam diturunkan kepada manusia untuk memperbaiki akhlak manusia. Karena sejatinya pada masa Islam diturunkan kepada Rasulullah, kedzaliman merebak di seluruh penjuru Bumi, yang haram dihalalkan dan yang halal dihiraukan. Islam turun agar menjadi pedoman manusia dalam hidup berakhlak terbaik.

 

Pada zaman dulu pasukan Islam memang menguasai wilayah, tetapi hal itu adalah lumrah bagi zaman itu saling berebut dan berperang memperebutkan wilayah kekuasaannya. Tetapi Negara Islam mencontohkan kepada masyarakat Dunia akhlak terbaik manusia seharusnya pada zaman itu sebagai berikut:

  1. Islam mencontohkan dalam berperang untuk tidak berlaku zhalim untuk tidak membunuh wanita dan anak-anak, musuh yang menyerah, merusak lingkungan, menyiksa tahanan, merusak bangunan dan tempat ibadah, ataupun menjarah/rampok kecuali rampasan perang pada saat peperangan.
  2. Islam mencontohkan dalam menaklukkan suatu wilayah untuk tidak memaksakan budaya dan agama kepada masyarakat non-muslim yang ditaklukkan dengan membayar jizyah, yang besarnya tergantung dari kemampuan mereka. Jika mereka tidak mampu membayar jizyah, maka mereka dibebaskan membayar jizyah dan diberikan penghidupan yang layak tanpa ada pemaksaan agama.
  3. Islam menegakkan hukum-hukumnya tidak diskriminatif terhadap non-muslim. Jadi ada hukumnya yang berlaku disepakati dengan non-muslim (hukum bersama) yang tidak melanggar kaidah halal haram. Dan ada hukumnya yang berlaku sesuai agamanya masing-masing.
  4. Tidak ada perlakuan rasial dan diskriminatif antara muslim dan non-muslim kecuali posisi penting yang memang sebuah hak dalam politik kekuasaan. Setiap warga mempunyai hak untuk dilindungi dan dicukupi kebutuhan hidupnya dan diperlakukan adil dalam persidangan. (Kisah contohnya pada zaman Ali menjadi khalifah dengan yahudi, yang Hakim memenangkan Yahudi karena Khalifah Ali tidak mempunyai saksi cukup untuk mendukung testimoninya).

 

Semoga tulisan ini menjawab kekeliuruan tersebut bahwa konsepsi Islam berhasil menjadi agama besar di dunia ini karena ekspansi pedang-pedang mereka ke wilayah-wilayah non-muslim adalah tidak benar. Wallahu Alam bi Showab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s